Senin, 25 Februari 2013

Bakul Edan


Suasana rame nang pasar Sega Emas.
Bakul jajan          : Mbak jajane mbak, ana risol, tahu bakso, arem-arem, akeh kiye mbak..
Q                        : Sampun tumbas
Bakul sayur         : Monggoh mbak lomboke..
Q                        : Mboten
Bakul sandal        : Mbak sandale kiye, modele anyar-anyar..
Q                        : Mboten bu
Bakul celengan    : Celengane mbak sing bentuk macan apa trewelu..
Q                        : Mboten pak maturnuwun
Bakul  buah         : Monggoh mbak jeruk, salak, manggis. Manggise sekilo limolas ewu mawon
Q                        : Kelarangen bu               
Bakul klambi       : Mas monggoh mas boksere diobral rongpuluh ewu olih telu
Q                        : *pendeliki

Kamis, 07 Februari 2013

SEREMONIAL RINDU


Berbahagialah bulan. Ia meminjam sebagian cahaya matahari. Mereka yang sedang merindu memujanya sambil menorehkan kalimat yang sangat sering dilafalkan sang perindu "Kita masih bisa melihat bulan yang sama".

Matahari kian perkasa, kemudian melemah kala senja. Sang perindu gemar mencintai kelemahannya. Matahari hanya dinanti bila hujan sudah terlalu sering tiba. Dalihnya, kedinginan, butuh kehangatan, butuh semangat. Yang tak punya mesin cuci dan tak ada laundry  terdekat merindukan matahari demi pakaian yang tak kunjung kering.

Hujan konon romantis. Banyak yang tiba-tiba menyukai kopi, duduk di balik jendela, menyaksikan air langit turun sempurna. Seolah tega melihat bumi basah, mungkin sengsara. Bagi perindu, kalimat ini menjadi sangat familiar: "Ada kenangan di setiap titik air hujan".

Hujan jadi besar kepala. Ia terus-menerus hadir, entah bagi pengagumnya, atau rumah yang digenanginya juga menjadi pengagumnya? Entahlah. Di musim penghujan ini, orang-orang sibuk mengungsi, juga menguras air di rumahnya. Maka, mereka juga menguras kenangan, entah kenangan siapa.

Hujan semakin dihujat. Sang perindu tak bisa lagi menyaksikan senja kesayangannya. Lebatnya hujan menutupi. Bulan pun seakan lenyap. Akhirnya, sang perindu memasang bulan di langit-langit kamarnya. Agar setiap berbaring ia dapat melihat bulan, meski bukan bulan yang sama.

Rinduku padamu tak tergantung apapun. Rinduku bukan karena bulan, hujan, atau matahari terbenam.

Pada suatu saat, aku memikirkanmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu. Aku memikirkan hal-hal tentangmu di masa lalu. Di saat yang sama kau juga memikirkanku. Itulah sederhananya rindu. Di antara pikiran kita ada Tuhan menyaksikan, mempersatukan. Masihkah kita memerlukan bulan?

Rinduku padamu bukan karena hujan. Aku menyukai hujan. Visual yang dihasilkannya sangat menarik. Tapi jika ia marah, banjir di mana-mana. Apakah rinduku padamu marah, dan menggenangi rindu-rindu yang lain? Atau bila ia hujan yang menggenangi rumah-rumah, haruskah aku mengurasnya untuk menemukan kenangan kita? Bagaimana jika ia mengalir, menghanyutkan semua yang tak berdaya? Haruskah aku memohon kepada matahari untuk menambah keperkasaannya mengeringkan laut?

Rinduku padamu tidak ada di dalam larutnya orang-orang menyaksikan matahari terbenam. Aku menyukai senja. Sangat menyukainya. Jika rinduku padamu adalah senja, di mana matahari akan terbenam, ketika usai, apakah rinduku juga akan usai? Kemudian berubah menjadi gelapnya malam? Rindu kita kelam.

Rindu kita sesederhana saling memikirkan. Ada Tuhan di tengahnya, mempersatukan. Kemudian ada waktu setelahnya, dan Tuhan di atasnya mempertemukan. Kita.

SILUET SENJA

Aku melihat sebuah siluet di kala senja. Ia tipis, datar, dimakan senja yang hanya dijatahi waktu sedikit setiap harinya. Senja tak seperti pagi yang cerah. Tak seperti siang yang garang. Tak seperti malam yang punya bulan.

Bagiku senja seperti waktu, mungkin duduk menyaksikan matahari menghilang dari pandangan. Merenungi berjam-jam seharian, apakah ia bermanfaat atau hanya menyaksikan perjalanan waktu belaka.

Hari ini, semua terlihat sama. Hiruk-pikuk, tegur sapa, tanya jawab, memesan dan menerima. Senja mencukupkan ruang bagiku untuk duduk, tak perlu di tepi pantai, cukup di teras rumah yang biasa-biasa saja tanpa teh, susu, kopi, tanpa minuman lain. Membiarkan semuanya lewat, sedang diri ini hanya terpaku, cukuplah aliran darah, detak jantung dan hela nafas yang berbicara.

Senja mencukupkan waktu bagiku untuk melihat ke belakang sembari bersiap menanti perjalanan setelahnya. Mungkin lelap, mungkin lelah, mungkin akan insomnia, atau mungkin akan kembali sibuk. Tak apa.

Bukan jeda, karena sudah terlalu banyak jeda sepanjang hari ini. Jeda ke kamar mandi, jeda ke luar ruangan untuk batuk, jeda makan siang, jeda untuk mengecek jejarig sosial. Bagiku senja lebih tepat sebagai waktu tersendiri untuk menyibukkan diri menganga. Betapa peralihan yang sangat lembut ada pada senja.

Lalu mengapa kau menaruh siluetmu pada senja?

Tentu kau tak mau menjawab. Biarkan aku menjawabnya, meski itu belum tentu benar. Siluet yang selalu berwarna gelap adalah kesiapanmu menjamu malam. Kau merangkum secara keseluruhan perjalananmu sedari pagi. Lalu, siapkah kau menjamu malam dengan perjalananmu sedari pagi?

Malam tak pernah menuntut jamuan apa-apa. Hanya saja, misteri tak terduga akan terkuak di kala malam. Bagaimana kita menjadi pujangga seketika, melakukan pertemuan-pertemuan penting, menyanjung bulan dan bintang, menyebut "galau" sebagai kata yang sangat sastrawi, seolah-olah kesedihan adalah satu-satunya yang dimiliki kesusastraan.

Mungkin kita harus siap menjamu malam, agar ia tak berpikir dua kali mengungkap rahasia mengapa malam selalu menjadi milik kita yang setia memandangi langit, menjadikan langit sebagai tempat pertemuan rindu, menjadikan rindu semakin menggebu-gebu, dan menjadikan puisi begitu sibuk berdeklamasi saat itu.

Dan...

Siluet senja adalah keseluruhan waktumu sedari pagi yang begitu siap menyambut kedatangan malam. Membuat kejadian-kejadian tadi menjadi cerita beragam di waktu malam, untuk dibagi, untuk ditertawakan, untuk ditangisi, untuk dikatakan rahasia dengan pernyataan, "maaf ini rahasia", untuk menunggu doa-doa yang begitu kreatif diamini banyak orang.

Atau....

Untuk menunggu Tuhan begitu indah disebutkan.

KANVAS


Saat ini aku memiliki kanvas, kanvas tanpa kuas, tanpa cat, juga tanpa buah pikiran. Kanvas ini kubiarkan kosong, karena kanvas putih ini adalah lukisan terindahku untuk mengawali tahun yang baru lagi. Hampir di setiap penghujung tahun aku melukis banyak mimpi, banyak cita, banyak doa, banyak calon pencapaian, tapi semuanya belum bisa membut aku berubah.

Pergantian tahun hanyalah perjalanan biasa dari sang waktu. Hanya membubuhkan kesempatan bagi orang untuk kembali menata mimpi baru, atau memutihkan harapan lama yang sempat usang karena tak sempat terjamah. Kemudian, aku lebih menyukai menitihkan air mata di penghujung tahun, agar sekiranya, aku mengerti betul bahwa semua yang terlewati adalah kegagalanku, kegagalan karena aku masih merasa kurang hidup,kegagalan juga karena aku sudah puas dengan hidup,juga kegagalan karena aku sudah merasa lebih dari hidup.

Kanvas putih di hadapanku, membiarkannya kosong adalah pekerjaan terbaik saat ini. Agar tak ada beban di kemudian hari, agar tak ada tumpukan mimpi-mimpi yang tak mampu terbangun, agar masih ada harapan untuk kembali membiarkan putih tetap putih, dan kosong tetap kosong. Kosong bukan berati tidak berisi.

Tahun ini aku akan menutup perjalanan dengan wajah kanvas yang kubiarkan memutih, aku hanya perlu sedikit senyuman untuk mengimbangi air mataku.

Aku bukan pemimpi, aku hanya seseorang yang menginginkan sesuatu. Bagiku mimpi dan keinginan berbeda, mimpi hanya mimpi yang berbatas pada alam bawah sadar saja, aku tak ingin mengkonotasikannya, maka keinginan adalah sebuah harapan dalam diri yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan, atau memilihnya sebagai takdir, jika aku bisa memilih takdir.

Kanvas yang putih kubiarkan tetap putih. Saat ini sebenarnya aku tengah melukis keinginan, keinginan untuk kosong, kosong selalu seimbang, tidak dominan pada satu arah, juga satu apapun itu. Maka aku melukis keinginanku untuk seimbang, semoga waktu mendatang, aku bisa menjadi manusia yang mampu memanusiakan diriku sendiri, kemudian seperti kanvas putih yang kosong, seimbang, berbicara tentang banyak hal, dan mampu menerima banyak warna.

Aku melukis keseimbangan yang belum bisa aku dapatkan, dan semoga bisa aku dapatkan. Semoga kalian yang berkeinginan mampu menyeimbangkan keinginan itu, terlebih aku yang nyata-nyata menginginkan keseimbangan itu.

Aku tak ingin bermuluk-muluk ria, mendaftar jutaan mimpi, kemudian mengabsennya satu-satu di waktu yang sudah aku rencanakan. Terkadang rencana membuatku tidak alami.

Baiklah, aku mengakhiri lukisanku, masih dengan kanvas yang kubiarkan putih, itulah citaku, itulah keinginanku yang semoga tidak akan berubah wujud menjadi mimpi.