Saat ini aku memiliki kanvas, kanvas tanpa kuas, tanpa cat, juga tanpa buah
pikiran. Kanvas ini kubiarkan kosong, karena kanvas putih ini adalah lukisan
terindahku untuk mengawali tahun yang baru lagi. Hampir di setiap penghujung
tahun aku melukis banyak mimpi, banyak cita, banyak doa, banyak calon
pencapaian, tapi semuanya belum bisa membut aku berubah.
Pergantian tahun hanyalah perjalanan biasa dari sang waktu. Hanya membubuhkan
kesempatan bagi orang untuk kembali menata mimpi baru, atau memutihkan harapan
lama yang sempat usang karena tak sempat terjamah. Kemudian, aku lebih menyukai
menitihkan air mata di penghujung tahun, agar sekiranya, aku mengerti betul
bahwa semua yang terlewati adalah kegagalanku, kegagalan karena aku masih
merasa kurang hidup,kegagalan juga karena aku sudah puas dengan hidup,juga
kegagalan karena aku sudah merasa lebih dari hidup.
Kanvas putih di hadapanku, membiarkannya kosong adalah pekerjaan terbaik saat
ini. Agar tak ada beban di kemudian hari, agar tak ada tumpukan mimpi-mimpi
yang tak mampu terbangun, agar masih ada harapan untuk kembali membiarkan putih
tetap putih, dan kosong tetap kosong. Kosong bukan berati tidak berisi.
Tahun ini aku akan menutup perjalanan dengan wajah kanvas yang kubiarkan
memutih, aku hanya perlu sedikit senyuman untuk mengimbangi air mataku.
Aku bukan pemimpi, aku hanya seseorang yang menginginkan sesuatu. Bagiku mimpi
dan keinginan berbeda, mimpi hanya mimpi yang berbatas pada alam bawah sadar
saja, aku tak ingin mengkonotasikannya, maka keinginan adalah sebuah harapan
dalam diri yang aku inginkan menjadi sebuah kenyataan, atau memilihnya sebagai
takdir, jika aku bisa memilih takdir.
Kanvas yang putih kubiarkan tetap putih. Saat ini sebenarnya aku tengah melukis
keinginan, keinginan untuk kosong, kosong selalu seimbang, tidak dominan pada
satu arah, juga satu apapun itu. Maka aku melukis keinginanku untuk seimbang,
semoga waktu mendatang, aku bisa menjadi manusia yang mampu memanusiakan diriku
sendiri, kemudian seperti kanvas putih yang kosong, seimbang, berbicara tentang
banyak hal, dan mampu menerima banyak warna.
Aku melukis keseimbangan yang belum bisa aku dapatkan, dan semoga bisa aku
dapatkan. Semoga kalian yang berkeinginan mampu menyeimbangkan keinginan itu,
terlebih aku yang nyata-nyata menginginkan keseimbangan itu.
Aku tak ingin bermuluk-muluk ria, mendaftar jutaan mimpi, kemudian mengabsennya
satu-satu di waktu yang sudah aku rencanakan. Terkadang rencana membuatku tidak
alami.
Baiklah, aku mengakhiri lukisanku, masih dengan kanvas yang kubiarkan putih,
itulah citaku, itulah keinginanku yang semoga tidak akan berubah wujud menjadi
mimpi.