Rabu, 03 Juli 2013

SURAT KECIL UNTUK JODOHKU


Teruntuk jodohku yang masih dirahasiakan oleh Alloh,
Wahai jodohku dimanapun kamu berada.. Aku menulis ini agar engkau tahu siapa aku, agar engkau mengerti apa yang menjadi hobiku, agar engkau memahami apa yang kusuka sebelum engkau benar-benar menjadi jodohku..
          Seni, itulah hal yang paling tak bisa ku benci. Hal yang selalu mewarnai hidupku saat aku tenggelam dalam kegelapan. Aku sangat mengagumi lukisan. Tapi  kekagumanku pada lukisan tak melebihi cintaku padamu, wahai jodohku..
          Oke, aku akan membuka sedikit rahasia dibalik istana biru. Istana biru, itulah kamarku. Di sudut kamar berwarna biru terdapat sebuah meja belajar, dimana ada satu rak yang selalu aku jaga dari tangan-tangan jahil yang keluar masuk istana biru tanpa permisi. Rak paling bawah, rak yang menyimpan sebuah kotak bekas kardus sepatu.
Wahai jodohku.. Tahukah engkau apa isi kotak itu? Mungkin hanya aku yang tahu. Didalam kotak berwarna biru itu aku menyimpan seperangkat alat lukis yang aku miliki sejak SD sampai saat ini. Beraneka kuas bermacam ukuran, cat minyak, cat air, cat sablon, pallet, tinner, dll semua tersimpan rapi didalam kotak itu. Tak satupun tangan asing kuijinkan untuk menyentuh barang berharga itu.
          Wahai jodohku.. Aku mencoba berlatih menggoreskan pensil dan kuas bercat diatas kanvas. Aku tahu hasilnya tak seindah lukisan karya Rebecca maupun bang Ronses Saban Sahroni. Tapi aku tak pernah menyerah berlatih melukis karena aku tak hanya ingin menjadi penikmat seni, tetapi aku juga ingin menjadi pencipta seni. Aku paham akan kemampuanku.
          Wahai jodohku.. Jika Alloh telah mempertemukan kita, aku berjanji akan melukis parasmu diatas kanvas dan kuberikan lukisan amatirku padamu. Tapi kau juga harus berjanji jangan mencaci lukisan spesial yang kubuat hanya untukmu. Aku hanya mengijinkan kau untuk mengkritik karyaku.
          Wahai jodohku.. Aku sering menulis cerita saat menanti dirimu, seperti saat ini juga. Aku juga mengerti kemampuanku dalam merangkai kata tak sepuitis kalimat kak Farah Dineva Rustam, tak sesentuh kalimat Dwitasari dalam tweetnya.
Wahai jodohku.. Maafkanlah aku yang sering mengumbar-umbar ketidaksabaran dalam menantimu. Aku ini orang pendiam. Tapi dalam diamku aku banyak berkata lewat goresan tinta. Pepatah bilang orang pendiam itu setia, mungkinkah aku seperti itu? Biarkan dirimu yang menilaiku.
Wahai jodohku.. Aku memiliki satu permintaan untukmu. Jika Alloh benar-benar telah mengijinkan kita untuk bersatu, temanilah aku melukis dan curahkanlah inspirasimu untukku. Berilah warna cintamu saat kugoreskan kuas bercat diatas kanvas. Berilah makna di hasil lukisanku. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakanmu. Aku mencintaimu, jodohku.
Trimakasih, semoga Alloh cepat-cepat mempertemukan kita..