Teruntuk jodohku yang masih dirahasiakan oleh
Alloh,
Wahai jodohku
dimanapun kamu berada.. Aku menulis ini agar engkau tahu siapa aku, agar engkau
mengerti apa yang menjadi hobiku, agar engkau memahami apa yang kusuka sebelum
engkau benar-benar menjadi jodohku..
Seni,
itulah hal yang paling tak bisa ku benci. Hal yang selalu mewarnai hidupku saat
aku tenggelam dalam kegelapan. Aku sangat mengagumi lukisan. Tapi kekagumanku pada lukisan tak melebihi cintaku
padamu, wahai jodohku..
Oke,
aku akan membuka sedikit rahasia dibalik istana biru. Istana biru, itulah
kamarku. Di sudut kamar berwarna biru terdapat sebuah meja belajar, dimana ada
satu rak yang selalu aku jaga dari tangan-tangan jahil yang keluar masuk istana
biru tanpa permisi. Rak paling bawah, rak yang menyimpan sebuah kotak bekas kardus
sepatu.
Wahai jodohku.. Tahukah
engkau apa isi kotak itu? Mungkin hanya aku yang tahu. Didalam kotak berwarna
biru itu aku menyimpan seperangkat alat lukis yang aku miliki sejak SD sampai
saat ini. Beraneka kuas bermacam ukuran, cat minyak, cat air, cat sablon,
pallet, tinner, dll semua tersimpan rapi didalam kotak itu. Tak satupun tangan
asing kuijinkan untuk menyentuh barang berharga itu.
Wahai
jodohku.. Aku mencoba berlatih menggoreskan pensil dan kuas bercat diatas
kanvas. Aku tahu hasilnya tak seindah lukisan karya Rebecca maupun bang Ronses
Saban Sahroni. Tapi aku tak pernah menyerah berlatih melukis karena aku tak
hanya ingin menjadi penikmat seni, tetapi aku juga ingin menjadi pencipta seni.
Aku paham akan kemampuanku.
Wahai
jodohku.. Jika Alloh telah mempertemukan kita, aku berjanji akan melukis parasmu
diatas kanvas dan kuberikan lukisan amatirku padamu. Tapi kau juga harus
berjanji jangan mencaci lukisan spesial yang kubuat hanya untukmu. Aku hanya
mengijinkan kau untuk mengkritik karyaku.
Wahai
jodohku.. Aku sering menulis cerita saat menanti dirimu, seperti saat ini juga.
Aku juga mengerti kemampuanku dalam merangkai kata tak sepuitis kalimat kak
Farah Dineva Rustam, tak sesentuh kalimat Dwitasari dalam tweetnya.
Wahai jodohku.. Maafkanlah
aku yang sering mengumbar-umbar ketidaksabaran dalam menantimu. Aku ini orang
pendiam. Tapi dalam diamku aku banyak berkata lewat goresan tinta. Pepatah
bilang orang pendiam itu setia, mungkinkah aku seperti itu? Biarkan dirimu yang
menilaiku.
Wahai jodohku.. Aku
memiliki satu permintaan untukmu. Jika Alloh benar-benar telah mengijinkan kita
untuk bersatu, temanilah aku melukis dan curahkanlah inspirasimu untukku.
Berilah warna cintamu saat kugoreskan kuas bercat diatas kanvas. Berilah makna
di hasil lukisanku. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakanmu. Aku mencintaimu,
jodohku.
Trimakasih, semoga Alloh cepat-cepat mempertemukan
kita..