"i
don't care if you don't wanna know what it is, cause the time just
won't stop to understand. im scared..too scared, to believe what i want.
Im shy..to shy, to tell the...truth."
Aku mengenalmu selama 10
tahun lamanya, sedetikpun mataku tak pernah berhenti beranjak
memandangimu dimanapun kamu berada. Kamu boleh menganggapku mata-mata,
ya...tak apa karena memang begitulah aku. Hampir setengah dari hidupku
kuhabiskan hanya untuk memataimu, aku tahu siapa saja yang ada di
dekatmu dulu atau kini, aku tahu apa yang sedang kamu lakukan
kemarin..hari ini...bahkan besok dan besoknya lagi. Kucatat dengan rapih
semua tentangmu dalam sebuah agenda yang tak pernah absen dari tas yang
selalu kubawa kemanapun aku pergi.
Kamu adalah laki-laki
yang dibutuhkan oleh semua orang yang ada di dunia ini, sosokmu bisa
berubah-ubah bagai bunglon...kadang kau menjadi ibu bagi adik-adikmu,
kadang kau menjadi bapak bagi adik-adikmu, kadang kau menjadi kakak bagi
teman-temanmu...bahkan kau bisa menjadi adik yang diidamkan
teman-temanmu, lalu kau bisa bertransformasi menjadi seorang idola bagi
semua orang...ini yang paling aku tidak suka dari sosokmu. Kenapa harus
kamu yang jadi laki-laki hebat dimata semua orang? kenapa tidak hanya
aku saja yang menganggapmu hebat?
Sedang aku? aku hanya
seorang wanita yang kebetulan duduk disebelahmu saat pertama kali
bibirmu mengucapkan kata sapa'an yang tertuju kepadaku, sepertinya kamu
merasa kasihan melihat seorang wanita jarang tersenyum berwajah biasa
ini duduk di dekatmu seorang diri tanpa satu temanpun. Kamu lantas
mengenalkanku pada dunia yang lebih berwarna, dimana bersosialisasi
adalah salah satu cara agar duniaku menjadi lebih berwarna. Dulu hidupku
abu-abu, setelah mengenalmu...ada warna jingga, hijau tosca, dan biru
muda...sebenarnya aku masih ingin menambah tone warna hidupku dengan
warna merah cerah, kuning, hijau terang...dan aku berharap, kamu yang
menambahkan warna-warna itu.
10 tahun kita saling
mengenal, 10 tahun pula aku bergumul dengan perasaan ini. Aku terlihat
sangat tenang dan biasa saja. Tapi seandainya kamu punya kemampuan untuk
melihat apa yang ada di dalam sini...kamu akan melihat sesuatu yang
sebentar lagi akan meledak seperti sebuah gunung yang berada dalam
status waspada karena sebentar lagi akan meletus. Kamu selalu tersenyum
menatapku, menimbulkan banyak percikan yang membuat gunung di dalam
diriku menjadi semakin matang. Tapi yang aku tahu, memang kamu selalu
tersenyum seperti itu kepada semua orang, perhatian perhatian kecilmu
yang menimbulkan percikan itupun selalu kau bagi pada setiap orang yang
mengenalmu. Aku semakin takut dan takut, dan aku malu dianggap wanita
tidak tahu diri yang sangat percaya diri kalau perhatianmu itu hanya
untukku.
Sampai detik ini masih
kucatat semua tentang kamu, entah sampai kapan ini berakhir...lidahku
terlalu kaku untuk mengatakan hal yang sejujurnya kepada kamu. Ingin
rasanya menunggu lebih lama lagi hingga lidah ini menjadi lentur dan
mampu berkata kepada kamu "Maukah kamu mewarnai hidupku?", tapi waktu
untukku sangatlah singkat dan tidak bisa diajak kompromi.
Tanganku masih saja
mencatat segala hal baru yang kudengar darimu...atau dari mulut orang
lain tentang kegiatan-kegiatan yang sedang kamu jalani, mobilku masih
saja terparkir di depan laboratorium saat kamu bertugas didalamnya. Aku
masih saja memata-mataimu hingga detik ini. Kadang aku berharap agar
kamu tiba-tiba datang ke hadapan aku dan bilang "Ijinkan aku mewarnai
hidupmu...", tapi sepertinya itu terlalu tinggi untukku.
Aku masih menjadi
mata-mata yang terus memataimu, entah sampai kapan akan begini...aku
sangat menikmatinya...walaupun kini...ada seorang laki-laki lain yang
meminta ijin kepadaku untuk mewarnai hidupku selamanya...dan telah
kuanggukkan kepala kepadanya tanda setuju. Biarlah dia mewarnai hidupku
dengan warna lain.....hanya kamu yang berhak mewarnai dengan warna merah
cerah...kuning..dan hijau terang. Tidak ada yang bisa menggantikan..mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar