Gubug Kebahagiaan
GUBUG KEBAHAGIAAN
Putih abu-abu. Bukan cerita
tentang masa SMA, namun tentang sebuah tempat yang berisi kesederhanaan hidup
ditengah maraknya kemewahan. Bangunan yang di bangun di masa Belanda ini
mengingatkanku pada garis garis perjalanan hidup sebuah keluarga, bisa dibilang
keluarga besar. Cukup besar pula
bangunan ini, mirip rumah Belanda yang memiliki jendela-jendela besar. Memiliki balai yang cukup luas dan ruang
keluarga yang sedang. Lantai bukan keramik marmer, melainkan teghel. Dapurnya
pun masih bertanah. Kompor, mixer, blender, kulkas, magic com tidak ditemukan
di dapur ini. Terdiri dari sepuluh kamar sempit, kalau zaman sekarang mungkin
orang akan mengira seperti kos kosan :D. Maklumlah zaman dulu orang belum
mengenal yang namanya KB, anaknya aja nggak tanggung-tanggung, satu lusin lebih.
Ditempat ini masih terbayang jelas masa-masa kecilku dengan
saudara-saudarku. Menangis di dapur karena takut melihat binatang terbang
menyala (red:kunang kunang). Tidur berdesakan di ranjang besi bersama sepupu
dan susah bernapas akibat kamar yang pengap. Melompat jendela kamar yang
tingginya dua meter. Sembunyi di kolong tempat tidur sambil makan gorengan. Menyembunyikan
makanan di laci meja. Meninggalkan sepupu yang sedang mandi sendiri dikamar
mandi (apa hubungannya coba??? 0_0). Mencoba kinang yang pedas milik eyang
putri. Nonton TV yang hitam putih (nontonnya TVRI terus, nggak ada chanel lain L), sampai sekarang TV
hitam putihnya masih ada lho. Dan masih banyak lagi.
Hiasan dinding
Pangeran Diponegoro dan R.A Kartini yang terbuat dari perunggu membuatku terkagum kagum ketika
berada di ruang tengah. Kotak hias milik bibiku yang terpajang di lemari selalu
mengundang seleraku untuk membawanya pulang dan selalu berharap bibiku memberikannya
untukku. Sekarang, entah dimana kotak hias impianku itu.
Usang dan
berdebu. Teghel pecah. Dinding mulai rapuh. Jendela keropos. Kamar mandi tak
berpintu. Ranjang besi yang biasa untuk tidur menginap dulu kini untuk duduk saja
keluar bunyi “cet.. cett.. cettt..” . Cat yang dulu berwarna krem dan
hitam berubah menjadi putih abu-abu. Potongan kaca yang menjadi favoritku untuk
bercermin sehabis mandi ketika tinggi badanku 120 cm, tak jelas lagi untuk
bercermin. Kertas payung yang membentuk angka 1994 masih tertempel di dinding
belakang. Konon tahun itu adalah salah satu tahun yang membuat mereka bahagia,
entah itu apa. Bila malam datang, hanya radio era 80an yang dapat meramaikan
suasana.
Seperti itulah
kini keadaannya. Bangunan tua yang kini hanya di huni oleh perempuan tua
berusia delapan puluh tahunan menjadi saksi bisu masa masa kacil ayah bersama
tiga belas saudaranya. Miris sekali mendengar cerita masa lalu mereka yang
hidup pas-pasan. Meskipun begitu, eyang selalu menekankan anak-anaknya untuk
bekerja keras dan taat beribadah. Dua faktor itulah yang membuat anak-anak
eyang kini dapat hidup lebih baik bersama keluarga kecilnya. Hingga Allah
memberikan jalan kemudahan, eyang putri dan alm.eyang kakung akhirnya diberi
kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang kelima.
Keadaan
berubah menjadi lebih indah ketika di hari lebaran. Semua berkumpul di tempat
ini. Sesaat duka tak tampak. Semua tersenyum dan tertawa. Kali ini, rumah tua
ini sekejap berubah mirip pasar. Penuh sesak. Mulai dari tangisan bayi,
teriakan anak kecil sambil berlari lari, sepupu sepupu bergelantungan di tiang
depan, suara orang dewasa bicara dan terbahak-bahak, semuanya melenyapkan radio butut itu. Mereka
adalah keturunan eyang. Kalau di hitung-hitung jumlah cucu yang terkumpul ada
tiga lusin lebih, sedangkan cicitnya ada setengah lusin J. Setiap tahun selalu ada
paras-paras yang berbeda. Pangling, istilahnya. Semua bernostalgia bersama. Saat-saat
seperti itulah yang ditunggu-tunggu. Tapi sayang, lebaran hanya setahun sekali.
Dan itupun tidak berlangsung lama. Setelah lebaran lewat, teriakan akan
berganti menjadi radio butut di keheningan malam. Jangkrik menghibur diri di
malam yang dingin. Angin berhembus
menepis korden jendela. Sepi kembali menyelimuti bangunan putih abu-abu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar