Senin, 19 November 2012

Gubug Kebahagiaan


 GUBUG KEBAHAGIAAN

Putih abu-abu. Bukan cerita tentang masa SMA, namun tentang sebuah tempat yang berisi kesederhanaan hidup ditengah maraknya kemewahan. Bangunan yang di bangun di masa Belanda ini mengingatkanku pada garis garis perjalanan hidup sebuah keluarga, bisa dibilang keluarga besar. Cukup besar  pula bangunan ini, mirip rumah Belanda yang memiliki jendela-jendela  besar.  Memiliki balai yang cukup luas dan ruang keluarga yang sedang. Lantai bukan keramik marmer, melainkan teghel. Dapurnya pun masih bertanah. Kompor, mixer, blender, kulkas, magic com tidak ditemukan di dapur ini. Terdiri dari sepuluh kamar sempit, kalau zaman sekarang mungkin orang akan mengira seperti kos kosan :D. Maklumlah zaman dulu orang belum mengenal yang namanya KB, anaknya aja nggak tanggung-tanggung, satu lusin lebih.

 Ditempat ini masih terbayang  jelas masa-masa kecilku dengan saudara-saudarku. Menangis di dapur karena takut melihat binatang terbang menyala (red:kunang kunang). Tidur berdesakan di ranjang besi bersama sepupu dan susah bernapas akibat kamar yang pengap. Melompat jendela kamar yang tingginya dua meter. Sembunyi di kolong tempat tidur sambil makan gorengan. Menyembunyikan makanan di laci meja. Meninggalkan sepupu yang sedang mandi sendiri dikamar mandi (apa hubungannya coba??? 0_0). Mencoba kinang yang pedas milik eyang putri. Nonton TV yang hitam putih (nontonnya TVRI terus, nggak ada chanel lain L), sampai sekarang TV hitam putihnya masih ada lho. Dan masih banyak lagi.

Hiasan dinding Pangeran Diponegoro dan R.A Kartini yang terbuat  dari perunggu membuatku terkagum kagum ketika berada di ruang tengah. Kotak hias milik bibiku yang terpajang di lemari selalu mengundang seleraku untuk membawanya pulang dan selalu berharap bibiku memberikannya untukku. Sekarang, entah dimana kotak hias impianku itu.

Usang dan berdebu. Teghel pecah. Dinding mulai rapuh. Jendela keropos. Kamar mandi tak berpintu. Ranjang besi yang biasa untuk tidur menginap dulu kini untuk duduk saja keluar bunyi “cet.. cett.. cettt..” . Cat yang dulu berwarna krem dan hitam berubah menjadi putih abu-abu. Potongan kaca yang menjadi favoritku untuk bercermin sehabis mandi ketika tinggi badanku 120 cm, tak jelas lagi untuk bercermin. Kertas payung yang membentuk angka 1994 masih tertempel di dinding belakang. Konon tahun itu adalah salah satu tahun yang membuat mereka bahagia, entah itu apa. Bila malam datang, hanya radio era 80an yang dapat meramaikan suasana.

Seperti itulah kini keadaannya. Bangunan tua yang kini hanya di huni oleh perempuan tua berusia delapan puluh tahunan menjadi saksi bisu masa masa kacil ayah bersama tiga belas saudaranya. Miris sekali mendengar cerita masa lalu mereka yang hidup pas-pasan. Meskipun begitu, eyang selalu menekankan anak-anaknya untuk bekerja keras dan taat beribadah. Dua faktor itulah yang membuat anak-anak eyang kini dapat hidup lebih baik bersama keluarga kecilnya. Hingga Allah memberikan jalan kemudahan, eyang putri dan alm.eyang kakung akhirnya diberi kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang kelima.

Keadaan berubah menjadi lebih indah ketika di hari lebaran. Semua berkumpul di tempat ini. Sesaat duka tak tampak. Semua tersenyum dan tertawa. Kali ini, rumah tua ini sekejap berubah mirip pasar. Penuh sesak. Mulai dari tangisan bayi, teriakan anak kecil sambil berlari lari, sepupu sepupu bergelantungan di tiang depan, suara orang dewasa bicara dan terbahak-bahak,  semuanya melenyapkan radio butut itu. Mereka adalah keturunan eyang. Kalau di hitung-hitung jumlah cucu yang terkumpul ada tiga lusin lebih, sedangkan cicitnya ada setengah lusin J. Setiap tahun selalu ada paras-paras yang berbeda. Pangling, istilahnya. Semua bernostalgia bersama. Saat-saat seperti itulah yang ditunggu-tunggu. Tapi sayang, lebaran hanya setahun sekali. Dan itupun tidak berlangsung lama. Setelah lebaran lewat, teriakan akan berganti menjadi radio butut di keheningan malam. Jangkrik menghibur diri di malam yang dingin.  Angin berhembus menepis korden jendela. Sepi kembali menyelimuti bangunan putih abu-abu..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar