Senin, 16 September 2013

HALLO BRO?!

HALO...APA KABAR? APAKAH KALIAN MASIH PUNYA KABAR?

Halo Bro....! Apa kabar loe? Tenang, gue gak basa-basi negur loe terus nanyain kabar loe. Gue tulus kok pengen tau kabar loe. Soalnya gini, Bro, banyak orang di luar sana yang katanya anak gaul, modern, terus gak saling nyapa kalo ketemu, kalopun ketemu dan saling nyapa, palingan cuma basa-basi doang. hahahahahahaha......

Bro, semalem lo malam mingguan di mana? Gue sih di rumah aja, nonton TV sampe gue ngerasa gak perlu lagi nonton TV, terus minum kopi sampe gue ngerasa gak perlu lagi minum kopi. Loe ke mana Bro? Ah...gue tau, loe pasti lagi mikirin gimana caranya loe bisa tenang di tengah-tengah keributan kan? Gue tau loe Bro, loe itu orangnya meneliti perbedaan, loe mencintai kontras. Salut Gue.

Bro.....besok hari senin lagi, orang-orang bakal gak saling negur lagi, jangankan negur, Bro, tatap muka aja kalo berpapasan di jalan kagak. Bro, kenapa salam itu jadi basa-basi sekarang? Kenapa ucapan selamat pagi, permisi, halo, cuma jadi formalitas aksi sosialisai? Atau cuma melengkapi etika berkomunikasi, banyak di antara mereka yang sebenernya sama sekali gak peduli dengan kabar orang lain. Inilah akibatnya kalau bahasa itu cuma dikenali, gak diresapi. Komunikasi udah diformat sedetail mungkin, jadinya nanyain kabar orang itu buat mereka sebuah keharusan, bukan ketulusan, Bro.

Bro.....udah dulu, ya, gue mesti nyapa orang lain, kali aja di antara mereka ada yang ngejawab gini, "Sorry gue gak kenal loe, ngapain gue peduli sama loe"? Itu lebih jujur, Bro, daripada sok ngucapin "Halo, apa kabar?" tapi cuma mau nawarin asuransi, atau mau ngajakin bisnis. Ah...payah....!!!

(Bro si bisu yang mengganti salamnya dengan sebuah senyuman)
Itu jauh lebih baik daripada masang muka datar karena pengen dibilang COOL....

PLANET BARU

Mohon maaf sebelumnya kepada Sang Maha Pencipta, juga kepada ahli antariksa. Saya akan memperkenalkan planet baru, entah tergabung dalam tata surya mana? Planet ini aneh, semi nyata juga semi abstrak. Sesuai kesepakatan, planet baru ini dinamakan internet.

Internet menawarkan pemenuhan kebutuhan yang sangat komplit. Banyak yang menyangka bahwa dunia maya bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah penuh imaji. Dunia yang katanya penuh dengan khayalan dan hal-ha absurd. Kecanggihannya menjadi bukti modernisasi kehidupan, bahkan telah berubah statusnya menjadi keharusan untuk mereka yang ingin berkembang. Internet juga adalah indikator status sosial seseorang. Banyak sekali kegunaan yang ditawarkan oleh internet, meskipun tingkat kriminalitas karena dunia maya sekarang ini semakin merajalela. Terlalu berlebihan bila internet itu dijadikan keharusan atau kebutuhan pokok.

Ketika internet menjadi sebuah pelarian. Inilah saya. Ada hal penting yang perlu dimengerti dan dipahami mengenai sebuaha arti kata "pelarian". Pelarian adalah tempat yang membuat kita ke sana ketika tempat kita pada saat tertentu sudah tidak nyaman lagi. Tapi, bagi saya pelarian adalah tempat di mana saya menjadi diri saya yang lain. Inilah internet dengan segala keunggulan, realis, dan surialisnya

Bisa saya sederhanakan saat ini. Internet menjadi gaya hidup saya dimulai dalam 3 tahun terakhir ini. Saya mulai tertarik dengan dunia maya, dunia yang membuat manusia tidak saling bertatap muka secara langsung, tempat di mana hanya ada layar yang berisi semua hal. Banyak orang yang beranggapan bahwa internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok umat manusia modern sangat fatal akibatnya. Katanya, sosialisasi berkurang, daya kepekaan melemah, produktivitas kepepet, kemunafikan bertambah, kemudian menjadi sangat malas untuk mengakui dunia luar. Itu hanya sisi subyektif pakar yang menyebut dirinya pakar. Sebenarnya, internet menjadi ajang sosialisasi yang sangat menarik. Tingkat peluang kebohongan dalam berselancar di internet memang sangat tinggi, misalnya pemalsuan identitas, memposting berita-berita hoax, atau menyampaikan isu-isu berbasis SARA. Akan tetapi, kita tidak menyadari bahwa kejadian-kejadian seperti itu mengajarkan kita akan satu hal, bahwa kejernihan berpikir harus diimbangi kepekaan perasaan. Orang yang kritis, berpikir out of the box, kemudian kualitas perasaannya tinggi akan terhindar dari kriminalitas dunia maya. Sebenarnya, ini sama saja ketika kita bersosialisasi secara langsung.

Sekarang, melanjutkan pengantar di atas, bagi saya internet menjadi tempat pelarian saya ketika dunia nyata sudah tidak adil lagi. Inilah yang dimaksud dengan kekecewaan pada realita. Bukannya menentang ketentuan Tuhan, namun lebih ke refleksi diri, agar ketika kembali ke dunia nyata, banyak referensi baru yang bisa dibawa.
Saya mengklasifikasikan kebutuhan internet saya sebagai berikut:

1. Menjadi tempat belajar.

Sebagai mahasiswa, kebutuhan akan informasi adalah sebuah keharusan, dengan tuntutan waktu yang singkat dan jadwal yang padat, internet ini sangat membantu saya mengerjakan tugas-tugas saya.


2.  Sebagai penyaluran hobi.

Saya sorang mahasiswa yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Setiap hari kebutuhan itu harus dipenuhi. Internet menjadi media yang sangat ramah untuk saya. Memposting tulisan di blog, mempublikasikannya, kemudian membaca beberapa komentar dari teman-teman, dengan sendirinya saya telah belajar untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, mendengarkan saran orang lain, dan yang paling penting adalah kepuasan batin menulis dan berbagi.

3. Menunjukkan sisi lain

Saya senang menyembunyikan sebagian kepribadian saya. Jadi, kehidupan sehari-hari hanya membuka separuh diri saya, selebihnya saya tunjukkan di internet. Seperti dalam akun social network, tak banyak yang menyangka kalau saya pribadi yang cengeng, peka, kurang percaya diri, dan pemimpi yang hebat. Banyak teman-teman saya yang menilai saya berbeda ketika berada dalam lingkungan sosial dengan lingkungan maya. Begitu pula sebaliknya. Saya bisa mengenal sisi lain orang-orang di sekitar saya dengan membaca tulisan di blognya atau status-status di akun social network nya.

4. Sebagai bukti bahwa saya masih ada

Iya, sejujurnya, saya adalah orang yang kurang percaya diri dalam pergaulan, bahkan saya sering menyisihkan diri dari kehidupan sosial. Keseringan juga merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, penyakit psikologis yang aneh, kemudian susah mencurahkan isi hati. Internet menjadi tempat saya menunjukkan kepada semua orang bahwa saya masih ada, masih hidup dengan tulisan-tulisan saya.

Inilah deretan kebutuhan hidup saya tentang internet. Saya tidak akan menggantungkan hidup saya pada internet, saya hanya ingin menyatakan bahwa internet adalah mediator handal dalam hal mengemukakan kata-kata yang kaku di mulut, juga wajah yang datar dalam keseharian sosial. Terkadang manusia membutuhkan tempat lain untuk mengekspresikan dirinya, meninggalkan sejenak kehidupan nyatanya, menuju dunia maya yang sebenarnya nyata. Terkadang manusia membutuhkan itu untuk menemukan kepercayaan dirinya, mengungkap kemampuan tersembunyinya, kemudian menggunakannya di kehidupan sosial yang kejam . Seperti itulah saya memandang internet sebagai salah satu gaya hidup juga salah satu tempat hidup di dunia yang berbeda, serta dunia yang penuh dengan kebebasan tanpa aturan-aturan yang memberatkan bahkan mengurung jati diri seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Sebagai dunia lain, bisa juga dijadikan planet lain selain bumi. Ketika Anda sudah jenuh dengan kehidupan nyata Anda, mengapa tidak internet menjadi dunia baru yang bisa menampung semua kekecewaan, pribadi baru, watak yang selama ini Anda sembunyikan? Bukannya bermaksud membuat topeng dalam kehidupan Anda, namun lebih menyegarkan pikiran dan perasaan Anda, bahwa selain dunia nyata ini, ada dunia yang bisa menentang semua kekakuan realita, itulah dunia maya. Selamat berselancar di dunia maya, selamat menemukan hal-hal baru, selamat menjadi orang-orang baru, agar ketika kembali ke dunia nyata, Anda seperti segar kembali dengan kekayaan apresiasi dan persepsi makna yang tinggi.

Memory Tertinggal

Andai Q seorang pelukis, kan ku abadikan keindahan itu dalam goresan diatas kain kanvas...

Andai Q seorang penyair, kan ku buat kenangan itu mjd bait-bait puisi terindah...

Andai Q seorang musikus, kan ku buat saat-saat itu mjd nada melodi yg indah...

Andai Q seorang fotografi, kan ku buat album foto khususnya...
Tp Q bkan slh stu darinya, dan kini Q hanya bisa menikmatinya saja...

Jumat, 13 September 2013

LONELY


Lonely, I'm Miss lonely
I have nobody
For my owwnnn
Yo. this one here, this one goes out to all my plays, girl,
You know, they got that one good friend whose always been there
Took all the bullshit,
Then one day he can't take it no more and decides to leave
Yeah,
I woke up in the middle of the night
And I noticed my friend wasn't by my side,
Could a sworn I was dreaming,
for him I was Feenin,
so I hadda take a little ride, back tracking ova these few years,
Tryng figure out wat I do to make it go bad,
cuz Ever since my friend left me,
My whole life came crashin
I'm so lonely (so lonely),
I'm Miss Lonely (Miss Lonely)
I have nobody (I have nobody)
for my own 

Can't belive I hadd a friend like you
And I just let you walk right outt a my life,
After all I put youu through,
You still stuck around and stayed by my side,
What really hurt me is I broke our heart,
Baby you were a good friend and I had no right,
I really wanna make things right, cuz, without u in my life friend
Been all about the world ain't never met a friend
That can take the things that you been through,
Never thought the day would come
Where you would get up and run and I would be out chasing you,
Cuz ain't nowhere in the globe I'd rather be,
And ain't no one in the globe I'd rather see,
Then the friend of my dreams that made me be,
so happy but now so lonely
Never thought that I'd be alone,
I didn't think you'd be gone this long,
I just want you to call my phone,
So stop playing friend and come on home (come on home),
Baby friend I didn't mean to shout,
I want me and you to work it out,
I never wihed I'd ever hurt my baby,
And its drivin me crazy cuz...
So lonely Miss Lonely
Miss Lonely

Cangkul vs Palu


Mohon maaf sebelumnya kepada seluruh pembaca khususnya para mahasiswa. Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskriminasi  golongan tertentu, bukan pula untuk menjelek-jelekan orang tertentu. Saya menulis deretan kata ini karena kisah nyata yang saya alami bersama teman-teman saya, tepatnya hari ini Jum’at 13 September 2013.
Berawal dari kisah dua teman saya, sebut saja Simbah dan Nini yang sedang duduk-duduk sambil bermain laptop di depan gedung X. Tiba-tiba seorang mahasiswi datang menghampirinya dan bertanya dimana letak kamar kecil (WC). Sontak kedua teman saya berpikir kalau perempuan cantik ini bukanlah mahasiswi dari fakultas kami, melainkan dari fakultas lain.
Sesaat setelah itu segerombolan cowok-cowok ganteng dan cewek –cewek cantik bergaya ala orang kaya datang dan berkumpul bersama mahasiswi cantik tadi lalu duduk beramai-ramai di depan Simbah dan Nini. Nah, semakin kuat dugaan kedua teman saya bahwa mahasiswa mahasiswi ini bukanlah dari fakultas kami. Jika dilihat dari penampilannya mahasiswa mahasiswi ini merupakan angkatan tua.
Seorang mahasiswa diantaranya (jujur saya akui memang ganteng) bergaya funky dengan memakai kaos hitam, kacamata hitam besar, ditambah lagi memakai masker hijau, berjalan santai sambil ngaca di dekat pintu dengan menjabrig-jabrigan rambutnya. Entah kenapa saya juga tak mengerti, sudah ganteng-genteng pakai masker hijau pula. Mungkin dia sedang flu atau mungkin takut terkena virus yang bertebaran dimana-mana. Maklumlah, orang kaya~.
Seorang mahasiswa lain yang duduk lesehen terlihat sedang menghisap sebatang rokok. Asapnya kebal-kebul seperti kereta uap. Hey! ini kampus, bukan tempat untuk merokok sembarangan! Memalukan!. Jujur, saya sungguh kecewa. Terlebih jika fakultas kami yang notabene fakultas hijau. Fakultas yang identik dengan udara segar, telah tercemar dengan asap rokok yang dihisap mahasiswa tak dikenal. Lebih parahnya lagi dia merokok ditempat strategis yang biasa dilalui dosen-dosen.
Berdasarkan cerita Simbah dan Nini yang sedari tadi duduk dibelakang mereka, ada seorang mahasiswi yang juga diketahui merokok. Dari hasil nguping teman saya, pembicaraan mahasiswa mahasiswi tersebut sungguh seperti manusia tak beretika.
“Eh, gue masuk angin gara-gara minum Ciu nih”
“Terus gimana?”
“Gue minum Ciu lagi terus sembuh deh.. hahahaha”
Beberapa orang diantaranya ada yang bercerita tentang dugem, bahkan ada yang bercerita kalau dirinya habis beli pakaian dalam dengan pacarnya. Sungguh cerita yang tak pantas diceritakan apalagi saat ini berada di kota Solo yang terkenal halus dan sopan tutur katanya. Dan yang paling membuat saya brrrrrrr adalah ada beberapa orang diantaranya yang menyeletuk:
“Mahasiswa pertanian itu dilarang keren ya??”
“Iyalah, mereka kan kerjaannya NYANGKUL sedangkan kita kan KETOK PALU”
Okeh fine, dari kata-katanya itu sudah dapat ditebak kalau mereka adalah mahasiswa dari Fakultas Hukum. Sudah banyak yang tahu kalau mahasiswa mahasiswi Fakultas Hukum identik dengan penampilan “Waah”.  Ini nih para calon penegak hukum yang adil?? Kapan hukum Indonesia bisa tegak seadil-adilnya kalau para calon penegak hukumnya seperti manusia tak bermoral??
Bicara soal status sosial sebagian besar orang akan menganggap para pengetok palu lebih terhormat dibanding seorang petani. Jabatan tinggi. Harta berlimpah. Uang trilyunan. Istri dimana-mana *ehh. Bolehlah mereka mengece kami (mahasiswa/i pertanian) sebagai orang rendahan. Sebagai orang gak gaul, sebagai orang gak keren, dan sebagai orang kampungan. Tetapi apakah mereka sadar harta siapa yang mereka pakai untuk ajang waah waah-an? Apakah mereka sadar betapa buruknya ucapan dan tingkah lakunya? Apakah mereka sadar kejamnya neraka saat didunia mereka foya-foya? Apakah mereka sadar tanpa petani mereka akan makan apa?????????
Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak manapun. Tapi untuk membuka hati kita semua. Khususnya para mahasiswa/i agar jangan hidup berfoya-foya. Orang tua membiayai kita untuk bersekolah tinggi agar kita sukses di masa depan. Bolehlah bersenang-senang di masa muda tapi jangan pernah lupa kehidupan akherat.