Mohon maaf sebelumnya kepada Sang Maha Pencipta, juga kepada ahli
antariksa. Saya akan memperkenalkan planet baru, entah tergabung dalam
tata surya mana? Planet ini aneh, semi nyata juga semi abstrak. Sesuai
kesepakatan, planet baru ini dinamakan internet.
Internet
menawarkan pemenuhan kebutuhan yang sangat komplit. Banyak yang
menyangka bahwa dunia maya bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah
penuh imaji. Dunia yang katanya penuh dengan khayalan dan hal-ha absurd.
Kecanggihannya menjadi bukti modernisasi kehidupan, bahkan telah
berubah statusnya menjadi keharusan untuk mereka yang ingin berkembang.
Internet juga adalah indikator status sosial seseorang. Banyak sekali
kegunaan yang ditawarkan oleh internet, meskipun tingkat kriminalitas
karena dunia maya sekarang ini semakin merajalela. Terlalu berlebihan
bila internet itu dijadikan keharusan atau kebutuhan pokok.
Ketika
internet menjadi sebuah pelarian. Inilah saya. Ada hal penting yang
perlu dimengerti dan dipahami mengenai sebuaha arti kata "pelarian".
Pelarian adalah tempat yang membuat kita ke sana ketika tempat kita pada
saat tertentu sudah tidak nyaman lagi. Tapi, bagi saya pelarian adalah
tempat di mana saya menjadi diri saya yang lain. Inilah internet dengan
segala keunggulan, realis, dan surialisnya
Bisa saya
sederhanakan saat ini. Internet menjadi gaya hidup saya dimulai dalam 3
tahun terakhir ini. Saya mulai tertarik dengan dunia maya, dunia yang
membuat manusia tidak saling bertatap muka secara langsung, tempat di
mana hanya ada layar yang berisi semua hal. Banyak orang yang
beranggapan bahwa internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok umat
manusia modern sangat fatal akibatnya. Katanya, sosialisasi berkurang,
daya kepekaan melemah, produktivitas kepepet, kemunafikan bertambah,
kemudian menjadi sangat malas untuk mengakui dunia luar. Itu hanya sisi
subyektif pakar yang menyebut dirinya pakar. Sebenarnya, internet
menjadi ajang sosialisasi yang sangat menarik. Tingkat peluang
kebohongan dalam berselancar di internet memang sangat tinggi, misalnya
pemalsuan identitas, memposting berita-berita hoax, atau menyampaikan
isu-isu berbasis SARA. Akan tetapi, kita tidak menyadari bahwa
kejadian-kejadian seperti itu mengajarkan kita akan satu hal, bahwa
kejernihan berpikir harus diimbangi kepekaan perasaan. Orang yang
kritis, berpikir out of the box, kemudian kualitas perasaannya
tinggi akan terhindar dari kriminalitas dunia maya. Sebenarnya, ini sama
saja ketika kita bersosialisasi secara langsung.
Sekarang,
melanjutkan pengantar di atas, bagi saya internet menjadi tempat
pelarian saya ketika dunia nyata sudah tidak adil lagi. Inilah yang
dimaksud dengan kekecewaan pada realita. Bukannya menentang ketentuan
Tuhan, namun lebih ke refleksi diri, agar ketika kembali ke dunia nyata,
banyak referensi baru yang bisa dibawa.
Saya mengklasifikasikan kebutuhan internet saya sebagai berikut:
1. Menjadi tempat belajar.
Sebagai
mahasiswa, kebutuhan akan informasi adalah sebuah keharusan, dengan
tuntutan waktu yang singkat dan jadwal yang padat, internet ini sangat
membantu saya mengerjakan tugas-tugas saya.
2. Sebagai penyaluran hobi.
Saya
sorang mahasiswa yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Setiap hari
kebutuhan itu harus dipenuhi. Internet menjadi media yang sangat ramah
untuk saya. Memposting tulisan di blog, mempublikasikannya,
kemudian membaca beberapa komentar dari teman-teman, dengan sendirinya
saya telah belajar untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik,
mendengarkan saran orang lain, dan yang paling penting adalah kepuasan
batin menulis dan berbagi.
3. Menunjukkan sisi lain
Saya
senang menyembunyikan sebagian kepribadian saya. Jadi, kehidupan
sehari-hari hanya membuka separuh diri saya, selebihnya saya tunjukkan
di internet. Seperti dalam akun social network, tak banyak yang
menyangka kalau saya pribadi yang cengeng, peka, kurang percaya diri,
dan pemimpi yang hebat. Banyak teman-teman saya yang menilai saya
berbeda ketika berada dalam lingkungan sosial dengan lingkungan maya.
Begitu pula sebaliknya. Saya bisa mengenal sisi lain orang-orang di
sekitar saya dengan membaca tulisan di blognya atau status-status di
akun social network nya.
4. Sebagai bukti bahwa saya masih ada
Iya,
sejujurnya, saya adalah orang yang kurang percaya diri dalam pergaulan,
bahkan saya sering menyisihkan diri dari kehidupan sosial. Keseringan
juga merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, penyakit psikologis yang
aneh, kemudian susah mencurahkan isi hati. Internet menjadi tempat saya
menunjukkan kepada semua orang bahwa saya masih ada, masih hidup dengan
tulisan-tulisan saya.
Inilah deretan kebutuhan hidup saya
tentang internet. Saya tidak akan menggantungkan hidup saya pada
internet, saya hanya ingin menyatakan bahwa internet adalah mediator
handal dalam hal mengemukakan kata-kata yang kaku di mulut, juga wajah
yang datar dalam keseharian sosial. Terkadang manusia membutuhkan tempat
lain untuk mengekspresikan dirinya, meninggalkan sejenak kehidupan
nyatanya, menuju dunia maya yang sebenarnya nyata. Terkadang manusia
membutuhkan itu untuk menemukan kepercayaan dirinya, mengungkap
kemampuan tersembunyinya, kemudian menggunakannya di kehidupan sosial
yang kejam . Seperti itulah saya memandang internet sebagai salah satu
gaya hidup juga salah satu tempat hidup di dunia yang berbeda, serta
dunia yang penuh dengan kebebasan tanpa aturan-aturan yang memberatkan
bahkan mengurung jati diri seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata.
Sebagai
dunia lain, bisa juga dijadikan planet lain selain bumi. Ketika Anda
sudah jenuh dengan kehidupan nyata Anda, mengapa tidak internet menjadi
dunia baru yang bisa menampung semua kekecewaan, pribadi baru, watak
yang selama ini Anda sembunyikan? Bukannya bermaksud membuat topeng
dalam kehidupan Anda, namun lebih menyegarkan pikiran dan perasaan Anda,
bahwa selain dunia nyata ini, ada dunia yang bisa menentang semua
kekakuan realita, itulah dunia maya. Selamat berselancar di dunia maya,
selamat menemukan hal-hal baru, selamat menjadi orang-orang baru, agar
ketika kembali ke dunia nyata, Anda seperti segar kembali dengan
kekayaan apresiasi dan persepsi makna yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar