Jumat, 13 September 2013

Cangkul vs Palu


Mohon maaf sebelumnya kepada seluruh pembaca khususnya para mahasiswa. Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskriminasi  golongan tertentu, bukan pula untuk menjelek-jelekan orang tertentu. Saya menulis deretan kata ini karena kisah nyata yang saya alami bersama teman-teman saya, tepatnya hari ini Jum’at 13 September 2013.
Berawal dari kisah dua teman saya, sebut saja Simbah dan Nini yang sedang duduk-duduk sambil bermain laptop di depan gedung X. Tiba-tiba seorang mahasiswi datang menghampirinya dan bertanya dimana letak kamar kecil (WC). Sontak kedua teman saya berpikir kalau perempuan cantik ini bukanlah mahasiswi dari fakultas kami, melainkan dari fakultas lain.
Sesaat setelah itu segerombolan cowok-cowok ganteng dan cewek –cewek cantik bergaya ala orang kaya datang dan berkumpul bersama mahasiswi cantik tadi lalu duduk beramai-ramai di depan Simbah dan Nini. Nah, semakin kuat dugaan kedua teman saya bahwa mahasiswa mahasiswi ini bukanlah dari fakultas kami. Jika dilihat dari penampilannya mahasiswa mahasiswi ini merupakan angkatan tua.
Seorang mahasiswa diantaranya (jujur saya akui memang ganteng) bergaya funky dengan memakai kaos hitam, kacamata hitam besar, ditambah lagi memakai masker hijau, berjalan santai sambil ngaca di dekat pintu dengan menjabrig-jabrigan rambutnya. Entah kenapa saya juga tak mengerti, sudah ganteng-genteng pakai masker hijau pula. Mungkin dia sedang flu atau mungkin takut terkena virus yang bertebaran dimana-mana. Maklumlah, orang kaya~.
Seorang mahasiswa lain yang duduk lesehen terlihat sedang menghisap sebatang rokok. Asapnya kebal-kebul seperti kereta uap. Hey! ini kampus, bukan tempat untuk merokok sembarangan! Memalukan!. Jujur, saya sungguh kecewa. Terlebih jika fakultas kami yang notabene fakultas hijau. Fakultas yang identik dengan udara segar, telah tercemar dengan asap rokok yang dihisap mahasiswa tak dikenal. Lebih parahnya lagi dia merokok ditempat strategis yang biasa dilalui dosen-dosen.
Berdasarkan cerita Simbah dan Nini yang sedari tadi duduk dibelakang mereka, ada seorang mahasiswi yang juga diketahui merokok. Dari hasil nguping teman saya, pembicaraan mahasiswa mahasiswi tersebut sungguh seperti manusia tak beretika.
“Eh, gue masuk angin gara-gara minum Ciu nih”
“Terus gimana?”
“Gue minum Ciu lagi terus sembuh deh.. hahahaha”
Beberapa orang diantaranya ada yang bercerita tentang dugem, bahkan ada yang bercerita kalau dirinya habis beli pakaian dalam dengan pacarnya. Sungguh cerita yang tak pantas diceritakan apalagi saat ini berada di kota Solo yang terkenal halus dan sopan tutur katanya. Dan yang paling membuat saya brrrrrrr adalah ada beberapa orang diantaranya yang menyeletuk:
“Mahasiswa pertanian itu dilarang keren ya??”
“Iyalah, mereka kan kerjaannya NYANGKUL sedangkan kita kan KETOK PALU”
Okeh fine, dari kata-katanya itu sudah dapat ditebak kalau mereka adalah mahasiswa dari Fakultas Hukum. Sudah banyak yang tahu kalau mahasiswa mahasiswi Fakultas Hukum identik dengan penampilan “Waah”.  Ini nih para calon penegak hukum yang adil?? Kapan hukum Indonesia bisa tegak seadil-adilnya kalau para calon penegak hukumnya seperti manusia tak bermoral??
Bicara soal status sosial sebagian besar orang akan menganggap para pengetok palu lebih terhormat dibanding seorang petani. Jabatan tinggi. Harta berlimpah. Uang trilyunan. Istri dimana-mana *ehh. Bolehlah mereka mengece kami (mahasiswa/i pertanian) sebagai orang rendahan. Sebagai orang gak gaul, sebagai orang gak keren, dan sebagai orang kampungan. Tetapi apakah mereka sadar harta siapa yang mereka pakai untuk ajang waah waah-an? Apakah mereka sadar betapa buruknya ucapan dan tingkah lakunya? Apakah mereka sadar kejamnya neraka saat didunia mereka foya-foya? Apakah mereka sadar tanpa petani mereka akan makan apa?????????
Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak manapun. Tapi untuk membuka hati kita semua. Khususnya para mahasiswa/i agar jangan hidup berfoya-foya. Orang tua membiayai kita untuk bersekolah tinggi agar kita sukses di masa depan. Bolehlah bersenang-senang di masa muda tapi jangan pernah lupa kehidupan akherat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar