Mohon maaf sebelumnya kepada seluruh
pembaca khususnya para mahasiswa. Tulisan ini bukan bermaksud untuk
mendiskriminasi golongan tertentu, bukan
pula untuk menjelek-jelekan orang tertentu. Saya menulis deretan kata ini
karena kisah nyata yang saya alami bersama teman-teman saya, tepatnya hari ini
Jum’at 13 September 2013.
Berawal dari kisah dua teman saya,
sebut saja Simbah dan Nini yang sedang duduk-duduk sambil bermain laptop di
depan gedung X. Tiba-tiba seorang mahasiswi datang menghampirinya dan bertanya
dimana letak kamar kecil (WC). Sontak kedua teman saya berpikir kalau perempuan
cantik ini bukanlah mahasiswi dari fakultas kami, melainkan dari fakultas lain.
Sesaat setelah itu segerombolan cowok-cowok
ganteng dan cewek –cewek cantik bergaya ala orang kaya datang dan berkumpul bersama
mahasiswi cantik tadi lalu duduk beramai-ramai di depan Simbah dan Nini. Nah,
semakin kuat dugaan kedua teman saya bahwa mahasiswa mahasiswi ini bukanlah
dari fakultas kami. Jika dilihat dari penampilannya mahasiswa mahasiswi ini merupakan
angkatan tua.
Seorang mahasiswa diantaranya (jujur
saya akui memang ganteng) bergaya funky dengan memakai kaos hitam, kacamata hitam
besar, ditambah lagi memakai masker hijau, berjalan santai sambil ngaca di
dekat pintu dengan menjabrig-jabrigan rambutnya. Entah kenapa saya juga
tak mengerti, sudah ganteng-genteng pakai masker hijau pula. Mungkin dia sedang
flu atau mungkin takut terkena virus yang bertebaran dimana-mana. Maklumlah,
orang kaya~.
Seorang mahasiswa lain yang duduk
lesehen terlihat sedang menghisap sebatang rokok. Asapnya kebal-kebul seperti
kereta uap. Hey! ini kampus, bukan tempat untuk merokok sembarangan! Memalukan!.
Jujur, saya sungguh kecewa. Terlebih jika fakultas kami yang notabene fakultas
hijau. Fakultas yang identik dengan udara segar, telah tercemar dengan asap
rokok yang dihisap mahasiswa tak dikenal. Lebih parahnya lagi dia merokok
ditempat strategis yang biasa dilalui dosen-dosen.
Berdasarkan cerita Simbah dan Nini
yang sedari tadi duduk dibelakang mereka, ada seorang mahasiswi yang juga
diketahui merokok. Dari hasil nguping teman saya, pembicaraan mahasiswa
mahasiswi tersebut sungguh seperti manusia tak beretika.
“Eh, gue masuk angin gara-gara minum Ciu nih”
“Terus gimana?”
“Gue minum Ciu lagi terus sembuh deh.. hahahaha”
Beberapa orang diantaranya ada yang
bercerita tentang dugem, bahkan ada yang bercerita kalau dirinya habis beli
pakaian dalam dengan pacarnya. Sungguh cerita yang tak pantas diceritakan
apalagi saat ini berada di kota Solo yang terkenal halus dan sopan tutur
katanya. Dan yang paling membuat saya brrrrrrr adalah ada beberapa orang
diantaranya yang menyeletuk:
“Mahasiswa pertanian itu dilarang keren ya??”
“Iyalah, mereka kan kerjaannya NYANGKUL sedangkan kita kan
KETOK PALU”
Okeh fine, dari kata-katanya itu
sudah dapat ditebak kalau mereka adalah mahasiswa dari Fakultas Hukum. Sudah
banyak yang tahu kalau mahasiswa mahasiswi Fakultas Hukum identik dengan
penampilan “Waah”. Ini nih para calon
penegak hukum yang adil?? Kapan hukum Indonesia bisa tegak seadil-adilnya kalau
para calon penegak hukumnya seperti manusia tak bermoral??
Bicara soal status sosial sebagian
besar orang akan menganggap para pengetok palu lebih terhormat dibanding
seorang petani. Jabatan tinggi. Harta berlimpah. Uang trilyunan. Istri
dimana-mana *ehh. Bolehlah mereka mengece kami (mahasiswa/i pertanian)
sebagai orang rendahan. Sebagai orang gak gaul, sebagai orang gak keren,
dan sebagai orang kampungan. Tetapi apakah mereka sadar harta siapa yang mereka
pakai untuk ajang waah waah-an? Apakah mereka sadar betapa buruknya
ucapan dan tingkah lakunya? Apakah mereka sadar kejamnya neraka saat didunia
mereka foya-foya? Apakah mereka sadar tanpa petani mereka akan makan apa?????????
Sekali lagi tulisan ini bukan untuk
menyudutkan pihak manapun. Tapi untuk membuka hati kita semua. Khususnya para
mahasiswa/i agar jangan hidup berfoya-foya. Orang tua membiayai kita untuk
bersekolah tinggi agar kita sukses di masa depan. Bolehlah bersenang-senang di masa
muda tapi jangan pernah lupa kehidupan akherat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar