Surya menyapaku, bulan menemanimu.
Kita tak berada dalam satu langit, tapi seluruh angkasa menyebutmu.
Mereka mengirimu dalam ruang rindu.
Kkau misteriku,, nafas keduaku,, bulir nadiku.
Sapa aku dalam ruang rindu.
Aku berdiri, aku tak berjarak dengan telepon genggam pengganti pelukmu.
*KRIIIINNGGGG....
Nada telepon itu adalah nyanyian benda canggih terhebat.
Dan auramu merambat menggetari hatiku, inilah waktuku, inilah waktumu, kurekatkan telingaku.
kamu : selamat pagi.. karenamu aku jadi mengingat, jika aku memukulmu, Tuhan memukulku.
aku : pagi.. akupun teringat, semoga hujan ditempatmu bukan wanita, karena aku bisa cemburu, dia lebih dulu menyentuh tubuhmu.
*Aku mendengar suaranya, menembus nadi terdalamku. Entah bagaimana
beku dan hangat bisa kurasa menjadi satu. Jemariku dan mataku menatap
lurus jutaan puisi yg kau kirim jutaan detik lalu.
kamu : puisi yg ku buat untukmu, kau pasti suka, karena resepnya datang dari surga.
aku : ya aku suka, surga yg berwarna. Oh iya suatu saat jika kau buta warna, aku telah siap melukis pelangi monokrom dihatimu.
*Aku terdiam, aku tersenyum dan berusaha kusembunyikan olehmu. Seakan
kau bisa menembus ruang melihatku. Tapi aku tau, kau tau senyum itu.
kamu : Aku tidak tau menau tentang arsitektur. Tapi ulahku kah yg menjadi jembatan antara senyummu dan surga pagi ini?
aku : Entahlah. Tapi saat ini, aku yg tak tau menau tentang ilmu bumi
ini tau pasti kalau tatapan matamu, walau hanya dibayangku, masih
membuatku lupa akan gravitasi.
kamu : Akupun tidak paham strategi pasukan burdi abad 13, yg aku tau hanyalah membentengimu dari panah lelaki brengsek.
*Aku berbisik pada nuraniku, "tentu kaulah bentengku, kaulah dinding
hatiku". Aku bergeser dan menatap langit disela jendelaku, "andai kita
satu langit," bisikku.
aku : Aku tak paham astronomi, tapi gugusan bintang setuju membentuk
konstalasi rindu kala langitku dan langitmu dipisahkan oleh waktu.
kamu : Aku pun tidak tau menau tentang matematika. Tetapi setiap aku
memikirkanmu, 2 x 21 hasilnya selalu lima huruf, sama dengan cinta.
aku : Kau menggodaku lewat angka. Kau tau aku tak suka matematika, aku
tak butuh hitungan, karena rasaku tak akan bisa terhitung sampai
kapanpun. Saat ini aku hanya membawa bekal sebungkus keyakinan dan kotak
berisikan hati. Apa itu cukup untuk menjelajahi waktu bersamamu?
kamu : Kau lebih dari cukup. Tenang dan menjelajahlah bersamaku,
meskipun aku tak paham terhadap ilmu apapun, kecuali memahamimu.
aku : Namun ingatlah, selama kita menjelajahi waktu, mungkin aku sering
lompat dan terbang. Namun tenanglah, karena di dasar hatimu aku selalu
jatuh.
kamu : Seangkasa dan sejauh manapun kau terbang tenggelam, mana bisa kau
mati? Jika surga memiliki nadi, cinta kita adalah denyutnya.
*Aku tersentak, bagaimana aku tidak mencinta? Setiap kata-kata itu menusuk hingga relung dan batin.
aku : Apa kamu bilang? Surga bernadi dan cinta kita denyutnya? Dengarlah
hai kamu, sang cahaya kedua setelah matahari, betapa aku telah jatuh
padamu dan menolak bangun lagi.
kamu : Biarlah ucap kuasa Tuhan yg membentuk senyummu. Jatuhlah seperti hujan memukul tanah, jatuhlah sesuai kalender surga.
aku : Apalah guna kalender jika hanya mengurut hari? Kau telah menjadi detik yg kulewati dan segala musim untuk kulalui.
*Kau terdiam, hening... dan aku merekam bunyi nafasmu, sebagai pengingat kau adalah udaraku.
kamu : Aku tidak tau menau tentang otomotif, tetapi namaku disebut
olehmu detak jantungku bisa cepat melesat membalap apa saja, siapa saja.
aku : Entah terbuat dari apa dirimu, ketika ku mendengar namamu, semua
sel-sel otakku tak henti menggambar wajah dan nadiku yg bergemuruh.
kamu : BumI berputar, tapi aku tidak pusing karenanya. Kamu mau
berputar-putar biarlah aku pusing, asal tidak lepas pandanganku ke
arahmu.
aku : Tuhan maha pencinta. Dia turunkan butiran cinta seujung kukunya melalui jemarimu dengan kata-katamu yg luar biasa.
kamu : KEMAHAAN Tuhan kulihat kadang humoris, menyediakanmu di musim
galau seperti menurunkan hujan dimusim kemarau. Aku terhibur.
aku : KEMAHAAN Tuhan sang pengatur segala. Disediakannya kamu sebagai
salju yg siap membekukanku dalam setiap deretan kata-kata syahdu. Aku
malu.
kamu : Aku ingin melihat antrian kata yg berdesakan di isi kepalamu. Aku ingin menyaksikan kuasa Tuhan melalui jemarimu.
*Aku tercekik rindu, waktu dan ruang seakan menghukumku. Andai bumi tak berputar, andai waktu terhenti, kan kuabadikan saat ini.
aku : Aku menyalahkanmu. Kini paru-paruku hanya sebesar 1 cm, ruang
nafasku disesaki oleh baris-baris cantik yg tersusun semesta pikirmu.
kamu : Aku pun menyalahkanmu. Huruf-hurufmu berbaris seperti tentara.
Kini telapak kakiku meleleh, berdiri di atas kata-katamu yg membara.
aku : Ini salahmu. Jika esok matahari memusuhiku, karena hangat kata dan
sapamu cukup membuatku melewati ribuan hari tanpa pagi.
kamu : Dan aku masih menyalahkanmu. Kau biang keladi, seenaknya
menghentikan waktu dunia dengan kalimat ajaib yg setara dengan mantra
surga.
aku : Kini Mozzart Bethoven bahkan bisa murka, karena melodi terindah
bagiku terlantun dari kata galian tarian lidahmu, dalam setiap kecapmu.
kamu : Tuhan maha kreatif. Dia menciptakan berbagai kalimat semangat untuk hidupku dan salah satunya datang dari dirimu.
aku : Aku tidak pernah menanyakan apa itu cinta hingga kau datang dengan
ribuan jawaban. Jawaban yg akan terus kupilih berkali-kali sampai mati.
Iya kau jawabanku atas pertanyaan yg bahkan belum kutanyakan. Karena
aku yakin meyakini.
kamu : Aku akan tidur, aku tak lelah, tetapi aku ingin berbaring
diantara kata-katamu yg berserakan dan lembut seperti bulu-bulu angsa.
aku : Ini detik aku melepasmu dan aku akan kembali lagi pada bayanganmu
dan menggenggam hampa jemari yg berjarak. Terima kasih, kini nadiku
kembali berdenyut tatkala gubahan katamu menulusuk sanubari dan
menari-nari dalam pembuluh arteri. Kau diam, Aku mati. Selamat tidur...
*kututup telepon, gemuruh dalam hatiku. Kini aku hidup lagi dan siap memulai hari...
-SADGENIC-