Andai saja menemukan sebuah jawaban semudah kita menanyakan seribu
pertanyaan dalam kepala, aku tak perlu lelah bertanya di mana kiranya
Tuhan mempertemukan kita? Sedangkan mata, telinga juga seluruh panca
indera berlomba-lomba mencari rasa yang sama rata. Bukankah seharusnya
kamu yang melengkapi cerita?
Andai saja mimpi dan nyata bisa kutukar sesukanya, bukan tidak
mungkin kupilih hanya kamu yang ada di dalamnya. Biar sepi tak perlu
repot-repot aku persilakan duduk di antara jarak pandang kita. Biar tak
perlu ada kata menunggu di antara jeda nafas kita. Lalu, apa yang
biasanya kamu lakukan saat aku tak di sana?
Di sisiku selalu ada rindumu, yang menunggu kuantarkan pulang.
Bergandengan tangan bersama doa yang tak pernah berkurang. Menujumu
mereka melaju, membawa serta sebagian aku. Khawatir bukanlah bagianmu,
karena ini hatiku tak mampu memanggil nama selain kamu.
Jika ada kata yang lebih ‘mencintaimu’ dari kata ‘cinta’, itu pasti
‘aku’. Jadi biarkan aku, cinta dan kamu sama-sama berjumpa dalam sebuah
paragraf panjang. Paragraf yang kuharap akan lupa bagaimana cara
mengakhiri dirinya sendiri. Paragraf yang mendongengkan kisah aku dan
kamu pada senyum-senyum kecil milik buah hati kita nanti. Paragraf yang
masih kita tulis bersama-sama sambil menunggu Tuhan menentukan
kelanjutannya.
Kamu begitu pintar menuliskan aku dalam hatimu, maka jangan heran jika aku begitu paham rasanya mencintaimu.
Terus bersyukur akan adanya kamu mungkin tidak akan membuatmu cepat
pulang ke sisiku. Tuhan pun mungkin lebih tahu, betapa memilikimu dari
kejauhan sungguh berarti untukku. Maka biarkan rindu kita berlipat,
jarak pun kian memuai. Mari kita menabung cinta terdalam, agar hati
bebas saling menyulam, menyatukan apa yang disebut sebagai kasih dan
sayang.
-DR-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar