Minggu, 06 Oktober 2013

Jarak

Andai saja menemukan sebuah jawaban semudah kita menanyakan seribu pertanyaan dalam kepala, aku tak perlu lelah bertanya di mana kiranya Tuhan mempertemukan kita? Sedangkan mata, telinga juga seluruh panca indera berlomba-lomba mencari rasa yang sama rata. Bukankah seharusnya kamu yang melengkapi cerita?
Andai saja mimpi dan nyata bisa kutukar sesukanya, bukan tidak mungkin kupilih hanya kamu yang ada di dalamnya. Biar sepi tak perlu repot-repot aku persilakan duduk di antara jarak pandang kita. Biar tak perlu ada kata menunggu di antara jeda nafas kita. Lalu, apa yang biasanya kamu lakukan saat aku tak di sana?
Di sisiku selalu ada rindumu, yang menunggu kuantarkan pulang. Bergandengan tangan bersama doa yang tak pernah berkurang. Menujumu mereka melaju, membawa serta sebagian aku. Khawatir bukanlah bagianmu, karena ini hatiku tak mampu memanggil nama selain kamu.
Jika ada kata yang lebih ‘mencintaimu’ dari kata ‘cinta’, itu pasti ‘aku’. Jadi biarkan aku, cinta dan kamu sama-sama berjumpa dalam sebuah paragraf panjang. Paragraf yang kuharap akan lupa bagaimana cara mengakhiri dirinya sendiri. Paragraf yang mendongengkan kisah aku dan kamu pada senyum-senyum kecil milik buah hati kita nanti. Paragraf yang masih kita tulis bersama-sama sambil menunggu Tuhan menentukan kelanjutannya.
Kamu begitu pintar menuliskan aku dalam hatimu, maka jangan heran jika aku begitu paham rasanya mencintaimu.
Terus bersyukur akan adanya kamu mungkin tidak akan membuatmu cepat pulang ke sisiku. Tuhan pun mungkin lebih tahu, betapa memilikimu dari kejauhan sungguh berarti untukku. Maka biarkan rindu kita berlipat, jarak pun kian memuai. Mari kita menabung cinta terdalam, agar hati bebas saling menyulam, menyatukan apa yang disebut sebagai kasih dan sayang.
-DR-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar