Sabtu, 31 Agustus 2013

Aku.. Kamu.. Jarak..


Sudah selama ini kita bersama dan ada jarak diantaranya
Kamu tidak perlu tahu bagaimana khawatirnya aku
Malam malam yang aku lalui dengan begitu banyak prasangka hati
Kamu tidak perlu tahu bagaimana hati ini lelah sendiri
Menebak-nebak sedang apa kamu disana
Menimbang-nimbang apakah kamu disana benar benar memikirkan aku, tanpa ada dia disela-selanya
Aku tidak ingin bertemu, karena bertemu denganmu cuma memantik bara api rindu
Jika saja jarak ini bisa aku lalui dengan mengayuh, berenang, bahkan berlari, akan aku lakukan
Sayangnya jarak ini tidak seperti itu
Jarak sering memperparah malam-malamku
Aku tidak sanggup lagi dengan apa yang ada diantara kita
Sebuah jarak semu
Kamu dan aku duduk berdua tapi kita sendiri-sendiri
Banyak orang bilang jarak bukan apa-apa bagi cinta
Tapi tidak begitu dengan jarak yang sedang aku hadapi ini
Ini soal jarak antara cinta
Jarak antara cinta dan tidak sekali
Ini bukan soal tempat
Jarak ini soal rasa
Kita berdua terpisah oleh perasaan berbeda
Jarak antara tiga hati
Aku padamu, kamu padanya

Kamis, 29 Agustus 2013

CARAMU


Yang ku ingat darimu adalah caramu
Yang dapat membuatku tak ingin tertidur saat malam tiba
Yang ku ingat darimu adalah caramu
Yang dapat membuatku tak ingin melepas saat pagi tiba
Adalah caramu saat engkau pergi dariku
Adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu
Yang ku ingat darimu adalah caramu
Yang dapat membuatku tak ingin melepas saat pagi tiba
Adalah caramu saat engkau pergi dariku
Adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu
I see you everyday and i want more (and i want more)
I see you everyday and i want more (and more and more and more)
I see you everyday and i want more (cause i want more)
I see you everyday and i want more
Adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu, adalah caramu

“Caramu sungguh sederhana namun sangat mempesona”

Senin, 26 Agustus 2013

VENUS


Jika malam tak bermuram,

Lihatlah langit di ufuk barat.

Tampak venus bersinar paling terang diantara milyaran bintang yang bertaburan.

Sorot sinarnya mengisyaratkan bahwa dirinya mampu menemani Bumi.

Satu galaksi, satu semesta.

Meski jutaan kilometer jarak memisahkan kita, tetapi aku masih bisa melihatmu walau hanya setitik cahaya.

Venus, aku mengagumimu..

Minggu, 25 Agustus 2013

SINAR SI PERANTAU


Sinar berjalan menyusuri gelapnya malam. Melangkah ditengah derasnya hujan, dibalut dingin yang menusuk tulang. Sinar berjuang sendiri hidup diperantauan. Mencari bekal untuk hidup dimasa depan. Jauh dari orang tua kadang membuat Sinar merasa kesepian. Sinar berusaha tegar. Menghapus air mata sendiri. Mengelap keringat sendiri. Tak ada tempat bersandar ketika lelah. Tak ada pesan masuk yang mengucapkan selamat tidur. Terkadang Sinar menangis dan merintih kesakitan.
Berbeda dengan ia yang selalu ada pendamping ketika susah. Ada yang menggandeng ketika berjalan. Ada yang memeluk ketika kedinginan. Bahkan semuanya ia dapatkan. Apalah Sinar ini. Orang yang memiliki kekurangan dan tak punya kelebihan. Orang yang tak pandai namun selalu berkeinginan menjadi orang pandai. Orang yang punya banyak harapan namun tak tahu apakah Tuhan akan mengabulkan. Orang yang jauh dari sempurna bahkan cantikpun tak ada. Patutkah orang seperti Sinar dicintai? Sinar memilih diam. Membiarkan hati yang bicara. Sinar tetap bertahan walau dalam kepahitan, karena ada doa ibu yang selalu menguatkan..

Rabu, 14 Agustus 2013

LAYAKKAH AKU DIPANGGIL ANAKMU?


Kasihmu tak mungkin kulupakan. Cuma kadang-kadang aku terlalu khayal dalam arus duniawi. Tatkala nasihatmu menjadi titisan hangat ditelingaku. Tatkala aku lupa akan nasihatmu. Dosakah aku sebagai anakmu? Aku merintih menangis mengenang diri ini. Layakkah aku menjadi anakmu? Kau senantiasa mendo’akan kesejahteraanku. Do’amu tak pernah putus walau aku lena dalam tidurku. Solatmu senantiasa berakhir dengan do’a untukku. Suaraku tak pernah hilang ditelingamu. Kasih sayangmu tak reput ditelan zaman. Namun anakmu ini sering lupa akan hal itu. Leka.. Layakkah aku jadi anakmu?
Air mata ini menetes tatkala aku terkenangkanmu ibu. Kasihmu sungguh murni tak berbanding kasihku untukmu. Layakkah aku dipanggil anakmu? Tatkala aku bersedih kau senantiasa disisi, menenangkan diriku ini. Tatkala aku menangis meratapi kehilangan permainanku, kau senantiasa disisi memujukku. Tatkala aku memberontak menginginkan sesuatu, tanganmu pantas mencarikannya untukku. Mampukah aku melakukan semua itu tatkala kau pula yang memerlukan. Jika tidak, layakkah aku dipanggil anakmu ibu? Mengapa nasibmu sebegini? Mendapat anak sepertiku. Layakkah aku dipanggil anakmu ibu? Ibu.. sudikah kau menerimaku? Anakmu?
Kukesali diri ini, semakin melupakanmu. Kata-katamu sering menenangkanku suatu ketika dahulu. Menyejukan hati yang sedang gundah gulana. Memadamkan api yang sedang marak menyala. Menyapu air mata yang gugur dipipiku. Kini tatkala aku sudah dewasa. Aku mulai melupakan akan kata-katamu. Nasihatmu kulempar. Kasihmu kubiarkan terapung dilautan. Panggilanmu ku sahut dengan amarah. Ibu.. Layakkah aku dipanggil anakmu? Maafkan dosa anakmu. Aku tak mau digelar Si tanggang. Disumpah menjadi batu karena durhaka.  Durhakakah aku ibu? Aku sujud mohon ampun darimu.
Kupanjatkan syukur karena masih berpeluang menemuimu lagi. Syukur ku ucapkan karena masih berpeluang memelukmu lagi. Syukur ku lafazkan karena masih berpeluang  merasa kasih sayangmu lagi. Namun layakkah aku menjadi anakmmu ibu? Kasihmu sungguh suci. Sayangmu sungguh murni.  Nasihatmu amat berarti. Ya Allah, kau tetapkanlah aku dijalanMu. Agar aku tak lupa asal-usulku. Semoga aku tak lupa siapa yang membesarkanku. Semoga dirimu, ibu kekal dihatiku. Sesungguhnya tidak ada yang lebih indah melainkan dapat bertemu denganmu. Betapa ingin ku dekap dirimu. Betapa ingin ku kecup tanganmu yang selama ini senantiasa menadah tangan berdo’a untukku. Ku ingin kau tahu ibu. Tak kira walau dimana ku berada. Tak kira dimana ku berlayar. Dirimu tetap dihatiku. Selamanya..