Rabu, 14 Agustus 2013

LAYAKKAH AKU DIPANGGIL ANAKMU?


Kasihmu tak mungkin kulupakan. Cuma kadang-kadang aku terlalu khayal dalam arus duniawi. Tatkala nasihatmu menjadi titisan hangat ditelingaku. Tatkala aku lupa akan nasihatmu. Dosakah aku sebagai anakmu? Aku merintih menangis mengenang diri ini. Layakkah aku menjadi anakmu? Kau senantiasa mendo’akan kesejahteraanku. Do’amu tak pernah putus walau aku lena dalam tidurku. Solatmu senantiasa berakhir dengan do’a untukku. Suaraku tak pernah hilang ditelingamu. Kasih sayangmu tak reput ditelan zaman. Namun anakmu ini sering lupa akan hal itu. Leka.. Layakkah aku jadi anakmu?
Air mata ini menetes tatkala aku terkenangkanmu ibu. Kasihmu sungguh murni tak berbanding kasihku untukmu. Layakkah aku dipanggil anakmu? Tatkala aku bersedih kau senantiasa disisi, menenangkan diriku ini. Tatkala aku menangis meratapi kehilangan permainanku, kau senantiasa disisi memujukku. Tatkala aku memberontak menginginkan sesuatu, tanganmu pantas mencarikannya untukku. Mampukah aku melakukan semua itu tatkala kau pula yang memerlukan. Jika tidak, layakkah aku dipanggil anakmu ibu? Mengapa nasibmu sebegini? Mendapat anak sepertiku. Layakkah aku dipanggil anakmu ibu? Ibu.. sudikah kau menerimaku? Anakmu?
Kukesali diri ini, semakin melupakanmu. Kata-katamu sering menenangkanku suatu ketika dahulu. Menyejukan hati yang sedang gundah gulana. Memadamkan api yang sedang marak menyala. Menyapu air mata yang gugur dipipiku. Kini tatkala aku sudah dewasa. Aku mulai melupakan akan kata-katamu. Nasihatmu kulempar. Kasihmu kubiarkan terapung dilautan. Panggilanmu ku sahut dengan amarah. Ibu.. Layakkah aku dipanggil anakmu? Maafkan dosa anakmu. Aku tak mau digelar Si tanggang. Disumpah menjadi batu karena durhaka.  Durhakakah aku ibu? Aku sujud mohon ampun darimu.
Kupanjatkan syukur karena masih berpeluang menemuimu lagi. Syukur ku ucapkan karena masih berpeluang memelukmu lagi. Syukur ku lafazkan karena masih berpeluang  merasa kasih sayangmu lagi. Namun layakkah aku menjadi anakmmu ibu? Kasihmu sungguh suci. Sayangmu sungguh murni.  Nasihatmu amat berarti. Ya Allah, kau tetapkanlah aku dijalanMu. Agar aku tak lupa asal-usulku. Semoga aku tak lupa siapa yang membesarkanku. Semoga dirimu, ibu kekal dihatiku. Sesungguhnya tidak ada yang lebih indah melainkan dapat bertemu denganmu. Betapa ingin ku dekap dirimu. Betapa ingin ku kecup tanganmu yang selama ini senantiasa menadah tangan berdo’a untukku. Ku ingin kau tahu ibu. Tak kira walau dimana ku berada. Tak kira dimana ku berlayar. Dirimu tetap dihatiku. Selamanya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar